Saya bayangkan beberapa bulan setelah film “Menculik Miyabi” dirilis, teman-teman kecil saya yang duduk di SD, teman-teman remaja yang duduk di SMP dan SMA dengan girang akan saling bertanya “Sudah nonton Miyabi?”. Ada dua kemungkinan yang mereka maksud dengan pertanyaan itu, pertama sudahkah menonton film “Menculik Miyabi” atau sudahkah menonton film porno Miyabi. Kemanapun pertanyaan itu berlabuh, nama Miyabi akan lebih santer diucapkan dibanding sebelumnya yang hanya ditemukan di pojok kamar gelap, bilik warnet atau disela cekikikan penikmat film porno.
Sungguh saya penasaran mengapa Maxima Picture—rumah produksi yang akan menghelat film itu—mendatangkan Miyabi meski dengan ongkos yang besar. Secara ekonomis, mungkin mereka sudah menghitung Miyabi akan menaikan tingkat penjualan film sampai derajat tertentu. Ini sebanding dengan prinsip ekonomi, bahwa keuntungan harus lebih besar daripada ongkos produksi. Besarnya keuntungan dalam industri film tentu saja berbanding lurus dengan tingkat penjualan (keping cd) film itu. Artinya, secara ekonomis mereka sudah mengukur banyaknya penonton dan bioskop yang akan memutar film itu.
Mendatangkan Miyabi sebagai salah satu pemeran dalam “Menculik Miyabi” terkait erat dengan isi cerita tentang tiga mahasiswa Indonesia yang keranjingan menonton film pornonya. Saat tiga mahasiswa tersebut mengetahui Miyabi—bintang film porno pujaannya—singgah di Indonesia, mereka berniat menculiknya. Artinya, film ini secara langsung tetap menghubungkan Miyabi dengan profesinya sebagai bintang film porno Jepang. Hubungan langsung antara profesi sebenarnya (realitas) dengan kisah film “Menculik Miyabi” (imajinasi) memperbesar ruang dimana ikon pornografi melenggang kangkung di ruang publik sebagai hiperealitas yang nyata tapi kabur. “Miyabi” akan menjadi kata yang ringan diucapkan, dimana dan kapanpun berada. Sekali lagi, ia tak lagi hidup di pojok kamar yang gelap atau bilik warnet, ia menjadi hidup di tengah-tengah ruang keluarga, sekolah, warung, pasar dan seterusnya.
Masih dalam bayangan saya, paska film itu dirilis, jutaan penonton kemudian menggoogling kata kunci “Miyabi” atau “Maria Ozawa”. Mereka akan menemukan tak hanya situs-situs yang menyajikan galeri foto telanjang Miyabi, melainkan juga link download videonya. Para lelaki yang kesemsem dengan paras ayunya akan menjadi member di group facebooknya. Rating Miyabi semakin naik dan terus menaik. Artinya, pornografi dan sekurang-kurangnya ikon pornografi juga semakin naik. Proyeksi ini bisa dibenarkan melihat temuan Ndoro Kakung berbasis Google yang menemukan bahwa pencarian kata kunci “Miyabi” atau “Maria Ozawa” paling banyak berasal dari Yogyakarta, disusul Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Jumlah mereka mengalahkan akses dari Makati, Manila (keduanya di Kota Filipina), Hanoi (Vietnam), Kuala Lumpur (Malaysia), dan Singapura.
Beberapa pihak seperti MUI dan beberapa publik figur lainnya terlibat pro-kontra tentang rencana kedatangan Miyabi ke Indonesia. MUI seperti kita ketahui, menolak kedatangan bintang porno yang memulai melakukan aktivitas seks sejak usia 13 tahun itu. Rieke Dyah Pitaloka mengatakan lebih baik menolak koruptor datang ke Indonesia daripada Miyabi atas nama antidiskriminasi. Desta Club 80’s setuju saja, siapa tahu Miyabi bisa bertobat paska memainkan film komedi itu. Eva Kusuma Sundari, anggota Kaukus Parlemen Perempuan menyatakan bahwa Miyabi tidak bisa dikenakan UU Antipornografi, artinya ia sah-sah saja bermain film itu. Ust. Yusuf Mansur berkeinginan menceramahi Miyabi kalau saja bisa bertemu dengannya. Wanda Hamidah mengusulkan mengenakan sanksi moral dengan memboikot film “Menculik Miyabi”. Meutia Hatta, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan mendukung langkah penolakan MUI. Titi Sjuman, aktris, justru berharap Miyabi akan menaikan perfilman
Indonesia. Silang pendapat ini belum termasuk para fans yang sebagian besar mendukung kedatangan Miyabi ke Indonesia yang bisa dilihat pada dinding facebooknya (Miyabi).
Beragam respon itu sejatinya menyuguhkan ironi. Satu sisi para publik figur yang mendukung terlihat naif terhadap konskuensi yang akan menggelinding bak bola salju seperti proyeksi saya di atas. Mereka berkilah bahwa selama Miyabi tidak bermain film porno di Indonesia, maka kedatangannya sah-sah saja. Menolak atau mencekal justru merupakan sikap diskriminatif. Pernyataan Rieke tentu saja blunder dan tidak logis. Masalah korupsi (koruptor) adalah krusial, namun masalah pornografi juga tak kalah penting. Eva Kusuma seyogyanya tidak hanya berlindung dibalik logika legal-formal UU Antipornografi semata, melainkan juga analisis dampak sosial-budaya lanjutan yang sulit dijamah oleh UU tersebut. Juga tidak kalah konyolnya adalah harapan Desta tentang siapa tahu Miyabi bertobat paska bermain di film ini.
Tak kalah ironisnya adalah harapan Titi Sjuman tentang Miyabi yang akan menaikan perfilman tanah air. “Menculik Miyabi” merupakan film komedi, lantas kenaikan dalam dimensi apa yang ia maksud? Jelas-jelas bahwa film komedi Indonesia yang sudah-sudah kurang bekualitas dari segi isi. Film komedi Indonesia hanya menyajikan itu-itu saja, seks dan horor. Ironisnya, Titi juga tahu bahwa adegan Miyabi tidak dapat dipastikan bagus, mungkin tidak sebagus adegan seksnya dalam film-film pornonya. Harapan Titi hanya mungkin benar pada dimensi ekonomis, bahwa film itu akan meraup untung sebanyak-banyaknya.
Suatu tempo seorang teman perempuan menyapa saya via YahooMessenger, ia berujar “Iya, saya kok bingung kenapa Raditya Dika yang nggarap film itu”. Saya balik tanya ke teman itu, “Apakah kamu tahu atau yakin bahwa Raditya Dika mempunyai integritas moral-intelektual yang bisa dipertanggungjawabkan?”, ia menjawab, “Saya tak yakin!”. Nampaknya nama Raditya Dika begitu hipnotif sehingga membuatnya bingung harus merespon seperti apa. Saya pikir Raditya Dika akan mengeruk keuntungan besar dengan sensasi luar biasa ini, jawab saya ke teman tadi.
Menurut saya, kekonyolan Raditya Dika bukanlah kekonyolan yang kontemplatif, seperti misal yang diperbuat oleh Pidi Baiq yang juga dibukukan. Sampai-sampai Prof. DR. Bambang Sugiharto menulis pada Kata Pengantar salah satu bukunya (Drunken Monster) “Kegilaan dan permainan adalah terapi yang penting untuk menjaga kewarasan dan keindahan hidup. Manusia telah menjadikan hidup terlampau serius, terencana dan rasional—terlampau ‘normal’ kata Michel Foucault—hingga hidup tak lagi menawan menggemaskan ….”. Bagi Raditya Dika “Menculik Miyabi” hanyalah sekedar kekonyolan hidup, yang ironisnya dalam bahasa lain, saya sebut “kekonyolan beresiko tinggi”. Sedang bagi Pidi Baiq, kekonyolannya merupakan gugatan atas kemapanan masyarakat yang telanjur malu-malu atau sungkan berbuat baik dan parodi realitas masyarakat kotemporer. Dalam bahasa lain, saya sebut “kekonyolan kontemplatif”.
Kemudian saya bayangkan teman-teman SD, SMP, SMA dan lainnya akan menemukan paragraf deskripsi pada beberapa situs porno, seperti berikut “Hey guys and gals! As you know, I always come back with a vengeance though I may be away for a while, so don’t worry, I’ll always be here to show you more Maria Ozawa! Today I have for you three video clips of Maria Ozawa enjoying some anal, and I must say it’s just pure hotness! Even to think about her getting anal is very masturbation provoking! She’s got such beautiful long legs and soft skin, it’s hard not to want to wank to this! Click the video link on the bottom to see her little ass hole getting teased as the guy provokes it with his fingers. The second short video clip is my favourite part! She is on her side and the scene shows those beautiful legs that I talked about, while the Japanese guy tries to stick his penis in her beautiful ass hole for some anal sex! All at the same time, she is jacking
another guys hard cock”. Mereka berpikir, kapan waktu akan mencobanya dengan entah siapa. Artinya survei tentang kesehatan reproduksi atau perilaku pacaran akan menemukan fakta yang semakin fantastis.
Pungkasan, saya pernah menonton video porno Miyabi, karena itu saya sama sekali tidak sependapat ia datang ke Indonesia untuk film “Menculik Miyabi”. Silahkan saja ia datang, sebagai turis atau pelancong yang menyinggahi Indonesia sebagai salah satu tujuan wisata.

0 komentar:
Posting Komentar