SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
mencintai-Mu
harus menjelma aku
Sesudah kurang-lebih dua jam pertunjukan, saya menarik kesimpulan:
1)Pak Sapardi jatuh cinta pada hujan. Baru saya sadari begitu banyaknya puisi-puisinya yang mengambil tema hujan, atau sekedar menyinggungnya dalam syair.
2)Acara ini adalah cara yang tepat kalau ingin merayakan Valentine yang romantis. Bagaimana tidak, ketika di puncak acara Ari-Reda dan kelompok vokal grup anak-anak SMA menyanyikan lagu “Aku Ingin”, sekaligus penontonnya juga, saya melirik ke bangku belakang, semua pasangan kekasih saling menggenggam tangan kekasihnya. Saya yakin lagu itu kemudian menjadi lagu tema mereka, dan puisinya mungkin akan dipajang di undangan pernikahan jika mereka kelak sampai di pelaminan.
3)Puisi-puisi Pak Sapardi, bagi saya puisi yang selesai. Tak bisa didebat, terutama dengan metafora yang sangat kuat. Mengingatkan saya pada Hallmark, kartu ucapan dengan gambar romantis kalau tidak menggemaskan disertai dengan teks puisi (yang tak dipungkiri penyairnya anonymous) atau setidaknya beberapa baris kalimat romantis.
Lalu kami pulang, mampir sejenak ke Burger King yang buka 24 jam. Hujan masih seperti stop kontak yang error. Nyetrum-enggak-nyetrum-enggak. Tapi lantas kami merasa, bahwa hujan itu tak lagi mengganggu karena membuat basah atau sakit kepala. Rasa-rasanya kok… hujan seperti ini jadi romantis ya? (cieee…)
Malam ketika sampai di rumah, saya sempatkan membuka-buka buku Aku ini Binatang Jalang, di halaman tujuh saya berkenalan dengan ia, “Sia-Sia”, namanya. Dan saya begitu ingin mengutip selengkapnya sebagai pembuka artikel ini.
Di dalam hatiku
Kuingin dirimu
kuingin kau selalu berada disampingku
kau pujaanku
kau permata hatiku
tahukah kau yang kurasa
perasaan dari relung jiwaku
aku sayang padamu
begitu sayang hingga ku tak tahu harus berkata apa
seandainya kau tahu perasaanku
kau akan menyadari
bahwa kau segalanya bagiku
setiap kata yang ku ucap
membawaku ke suatu maksud
maksud hatiku
menggapaimu, meraihmu
dalam bayangku kau selalu berada dekat disini
di dalam hatiku
Bukan
Kebahagiaan bukan kebahagiaan,
di dalam kemewahan
Kesedihan bukan kesedihan,
itu adalah tawa,
dalam kebahagiaan yang berlebih
kemarahan bukan kemarahan,
adalah bola,
bola api,
dalam balut kesedihan
Di dalam relung hatiku
Kristal-kristal itu mulai retak
salju yang menyelimuti mulai mencair
mentari mulai menyinari hatiku
di dalam kehampaan yang tanpa batas
Mutiara itu datang tiba-tiba
mengisi ruang kosong di hatiku
mewarnai hari-hariku
dengan harapan yang seindah pelangi
Musim semi berkembang
ku harap jangan gugur lagi
tapi apa daya
waktu terus bergulir
Di dalam relung hatiku
hati yang terselimuti oleh salju
ada ruang yang kosong di situ
menunggu sesuatu yang tak tentu
Sesuatu yang ku cari semakin menjauh
sesuatu yang tak ku cari tetapi semakin mendekat
Hanya dapat menikmati dari sisi mimpiku
sesuatu yang dekat bagi ku
tetapi jauh baginya
Di dalam hatiku
Kuingin dirimu
kuingin kau selalu berada disampingku
kau pujaanku
kau permata hatiku
tahukah kau yang kurasa
perasaan dari relung jiwaku
aku sayang padamu
begitu sayang hingga ku tak tahu harus berkata apa
seandainya kau tahu perasaanku
kau akan menyadari
bahwa kau segalanya bagiku
setiap kata yang ku ucap
membawaku ke suatu maksud
maksud hatiku
menggapaimu, meraihmu
dalam bayangku kau selalu berada dekat disini
di dalam hatiku
ketika harapan itu hilang
sepucuk harapan
kini terbang
jauh melayang tinggi
ingin selalu kugenggam
tak kuasa aku tahan
dengan kekuatan hati
dan setitik harapan
namun semua tetap hilang
hancur sudah kurasa
impian jiwa
tuk meraih bahagia
saat ku kembali
jalan yang kutempuh
telah lengang
kosong tanpa isi
tanpa makna yang menghiasi
kau telah pergi
tinggalkan diri ini
yang sendiri
ingin menggapaimu
namun ku tak lagi
sanggup mengejar bayangmu
meski itu sedetik jua
SYAIR KESOMBONGAN
SYAIR PERINGATAN BAGI SIAPA SAJA YANG MERASA BISA BERKATA
Kamu pikir, kamu bisa apa?
apa kamu pikir bisa berkata-kata
padahal sesungguhnya
kamu tidak pernah tahu asal-usulnya
jangan kira kamu bisa menyusun kata
seolah itu menjadi bait puisi bermakna
karna sesungguhnya kamu cuma meniru saja
ini peringatan bagi siapa saja yang merasa bisa berkata
BIARLAH PADAMU......
biarlah padamu,
tertuang segala harap dan anganku
berdua kita singgah merawat pualam cita di taman hati
memahat waktu bersama dalam tanya tiada akhir
biarlah padamu,
kurebahkan raga satukan hasrat nan membara
biarkan daun telingaku memerah oleh panas napasmu
mengayuh rasa dalam rintihan meregang otot
biarlah padamu
berlabuh perahu sengsaraku yang lama dihantam badai
ku ingin bagai anak kecil menangis sepuas mungkin
merasakan nyata cintamu membelai segala perihku
AIR MATA DARI PANJANG
Aku berjalan. . . Bakauheni - bakauheni dermaga pesona
Aku bersua. . . Rapuhnya anak tangga dan tiang papan
Papan bukan sembarang papan, ini papan rumah rakyat
Yang dahulu mengabdi, kini memiliki rumah megah
Dulu, rintikan air mata dan terjatuh hingga ke ngarai
Lembah hatiku, haruskah teduh menatapmu
Kini swarna - swarni temboknya
Kini firdusi menemaninya
Dermaga saksi bisu, ketika cinta wisata
Dermaga menemanimu, nak! ketika kelana
Raih semua gegap gempita dan kemerlip
Hambur segala duka bercita dan selinap
Air mata dari panjang, papa. Aku sunda. Kujang.
Air mata dari panjang, papa. Aku padang. Parang.
Air mata dari panjang, papa. Aku jawa. Keris.
Air mata dari panjang, papa. Aku berdiri, kulihat krakatau tinggi.
Menangis dalam belaian kumbang.
Menangis dalam sentuhan selendang.
Menangis dalam aroma kembang.
Menangis dalam wanginya kecapi.
Tak Seperti Dulu
gugur senja sore dihadapan
ketika sosok bayang menghampiri
saat detak-detak jiwa bertalu
tatapan muka sembilu menyayat kalbu
entah apa yang kau rasa
hingga tiada suatu kecerahan
kebahagiaan di seraut wajah manusia
yang hampir tak kukenal cahyanya
dahulu ketika aku menghadapi
seraut muka bocah mungil
sejuk tatap matanya
hingga damai menghampiri
relung dan kenangan
merajut kembali
kini kutahu
detik jam berbunyi
dalam malam sunyi
begitu jelas kudengar
mengisi seluruk ruang
ruang itu ruang kamarku
ruang sepetak dalam hidupku
seperti juga kau
yang menghiasi
yang membayangi
seluruh ruang jiwaku
kutahu kini
tak mungkin lagi
bisa ku menghanyutkan
mengaburkan semua
bayangmu
senyummu
serta semua lakumu
dari jalinan benang kehidupanku
kembang
tak lagi kutemukan
seusai kau pergi
hanya bayang diri
yang menemani
parasmu nan elok
selalu kurindukan
gemuruh hati bertalu
menenti kembalimu
kasih, entah dimana kau berada
ataukah kau rasa sama denganku
ingin selalu bersua
meski hanya impian semata
dirimu tak lagi di sisi
menegakkan diriku
menguatkan langkahku
tuk gapai asa kehidupan
sebuah tanya
hatiku terusik sebuah tanya
namun sungguh ku terpana
meski hanya galau dalam jiwa
semakin lama ku tak kuasa
menahan tanya itu
lama terpendam
lama tersimpan
hingga tergelarlah semua
masa yang tlah memaksa
diri ini tuk berkata
melepas sebuah beban
sepenggal kata
sungguh ku tak tahu harus bagaimana
menghadapi hati dan impian
tak tahu harus berhenti
ataukah melangkah pergi
tapi bayang-bayang itu selalu ada
takkan terlupa selamanya
raguku kian merebak
di antara harapan indah
berkhayal semua kembali
seperti dahulu masa terindah
namun tak berguna kusesali
semua pergi bersama angin
tiada guna penyesalan
sesalan tiada guna lagi
menghampiri diriku yang sendiri
samar-samar kutatap semua
hendak lalu entah ke mana
hidup penuh liku dan goncang
tiap masa dan langkah berhadapan
tuhan pasti berikan jalan
setiap hamba hanya melewatinya
sudah semua sudah terjadi
dan entah tak tahu jawabnya
seolah menanti kapal yang telah
pergi datang kembali menyapa
dalam sedih nantian dan harapan
yang entah kapan bersu
Tentang Seseorang
bara itu belum padam benar
di dada Hanoman;
dada seorang lelaki
pun bisunya langit menangisi
aku akan tetap pergi
memulangkan luka pada puisi
tentang seseorang
mungkin benar kata mereka
tentangku yang menunggu bisu
atau ku bakar saja sejarahmu dalam ingatan
agar tiada lagi yang membendung air mata
Kerang yang tertinggal
Mulailah maki aku!
atau kau ingin ciumi dulu, kenangan tentang hari-hari lalu yang telah lenyap? ingin kau torehkan dulu, goresan luka di atas putihnya bidang cinta kita? hingga kita sama-sama berdarah? terjerembab dalam putaran waktu, tanpa sempat lagi memilih antara menjadi waras atau terus-terusan gila!
ketika jejak kakiku tidak lagi kau temukan,
sinar mataku meredup di sela-sela kemenanganmu,
benih-benih cintaku mati sebelum benar-benar tua,
ketika nafasku berhenti berdesah di balik daun telingamu,
menyekap serpihan rindu yang siap kau tebarkan di pantai kita.
malam ini,
sekalian saja, sayang...
maki aku!
kutuk aku!
lalu bunuh aku!
karena yang tertinggal memang hanya kumpulan kerang, tanpa nama, tanpa suara. bukan aku-bukan pula cintaku.
Aku yang Terlalu
Aku yang terlalu
kau tutup mulutku
mari bersama untuk
menutup kemaluan kita, jendela, pintu, lobang angin dan
mata hati
karena
aku yang terlalu
menutup telingaku
untuk bersama lakukan
parade akhir tahun yang
menutup mata hati
kita
bahwa bobotnya cukup bicara
satu kata sudah
PUISI CINTA
Cinta itu SUSAH!
Susah melihat orang lain putus cinta
Senang melihat orang lain jatuh cinta
Cinta itu Takut…
Takut patah hati
Takut jatuh cinta pada orang yang tidak mencintainya
Cinta itu Mencuri!
Mencuri perhatian kekasih dengan kasih sayang
Cinta itu MARAH!
MARAH!!! Bila cinta dihianati!
Cinta itu malu…
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu
Cinta itu… Tidak ada!
Tidak ada kata menyerah!
Tidak ada kata putus asa!
Cinta itu aku
Aku yang hadir kepadamu
Tanpa peduli siapa aku di masa lalu
Cinta itu kamu
Kamu yang hadir kepadaku
Tanpa mau tau siapa kamu dulu
Cinta itu tidak ada!
Tidak kenangan
Yang ada adalah masa depan!
Cinta itu
Aku untuk Cintamu
(Puisi Cinta...Dari Catatan Dedy Miswar Oleh Sang Pujangga....)
Siapakah Teman Sejati
Dalam kesendirian aku cari
Teman untuk menghiasi hidup ini
aku dapat manusia
tapi tak bisa dipercaya untuk selamanya
dimana teman sejati?
yang bisa hiasi hidup ini biar kian berarti
di dunia sampai akhirat nanti
mungkin teman sejati adalah fikiran dan lamunan
yang setia menemani dalam kesendirian
ide-ide bermunculan dengan semua anganan
tapi ku ta' berdaya untuk melakukan
Sepucuk daun puisi aku petik untukmu, Deirya
Aku buta walau aku tampak melihat
Kau kebalikannya.
Langkahmu aku tapaki sekarang,
Kau telah pulang, aku pun ingin menyusul.
Tunggu aku dengan senyummu,
Aku pun akan tersenyum pula
Senyummu kuukir sekarang pada seluruh boneka Tuhan
Tak akan ada yang marah, ataupun bersedih, semuanya bergembira
Tapi sayang sekali, kau hanya melihatnya dari balik awan surga
Tapi tenang,
Tak akan lama kau sendiri,
Aku akan menemanimu
Dan sambil berguling-guling melihat kehidupan indah
Bagaikan diri kita ini pengendali boneka
Jalan jiwa kini menyatu
Tunggu aku di balik awan surga dengan secangkir senyum dan bungkus puisi
SELARIK PUISI TIRANI
Dingin terpenjara oleh ilmu dan tentu saja.
Berbimbang dan meragu seisi wawasan dikepala.
Tirani adakah nanti, membesi.
Tirani adalah jeruji, mengunci.
Tirani seperti puisi yang hening.
Tirani seperti puisi yang bening.
Tirani berpuisi menunggu hati bersedih.
Tirani berpuisi menunggu hari yang pedih.
Lalu embun pagi meresap dari mata kejiwa aku.
Bersua debur ombak sore hari yang bertalu.
Kududuk ditengah malam, ribuan bintang, terima kasih.
Tidak terasa menangis, walau belum datang terpedih.
sejuta ciuman sejuta sayap
aku kupu-kupu bahagia
betapa tidak?
satu ciumanmu tumbuhkan satu sayapku
hari ini sejuta ciumanmu menghujam ku
dengan kepak sejuta sayap aku melintasi dunia
menikmati eloknya paris,
indahnya athena,
megahnya tembok cina,
cantiknya tajmahal,
luasnya gurun sahara
perkasanya piramida gizeh
kudusnya vatican, atau khusuknya mekkah
lalu hinggap di gaza kemudian menebar gandhi berkata
“jika mata kau balas mata, dunia menjadi buta”
>>>oh indahnya<<<
di indah langitnya biru
sangat cerah seperti hatiku...
penuh dengan warna yang damai...
tenang dan....
kebahagian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata...
aku tak tahu kenapa bisa begini...
mungkin karna ada dewi yang muncul....
muncul dihadapanku...
menerangi....
mewarnai....
mengisi ruang hampa didalam hatiku yang sepi....
mungkin aku tak pernah rasakan ini sebelumnya....
rasa yang sangat mengesankan jiwa...
membangkitkan gairah hidup...
...dan memberitahukan bahwa hidupku mempunyai arti...
arti hidup yang layak diperjuangkan....
ku sangat bahagia...
jika kau bersamaku....
memujamu....
memanjakanmu....
memberikan separuh hidupku padamu....
karena ku tak pernah mencintai orang lain sepertimu....
harusnya...
harusnya aku menjeda langkah, lalu hinggap di sisinya, kemudian menyapa.
bukan melempar senyum basi pada betina yang ingin dibuahi.
harusnya ku lumat bibir pantai pada senja yang membuat camar birahi
lalu ku sapu langit dengan kuas jingga berjuta gradasi
bukan membiarkannya mencumbu sepi
harusnya simpan takutku dalam laci lalu kunci
ku lempar kunci itu ke telaga tanpa tepi biar jumpa tiada
bukan meninggalkannya sendiri
harusnya… cukup!
dia sudah mati.
Penantianku
Senja semakin gelap
Satu per satu lampu jalanan menyala
Bintang-bintang tak tampak
Ditutupi oleh awan hitam
Angin semakin kencang
Dingin tlah menyapa
tiba-tiba
gerimis jatuh setetes demi setetes
Hujan….
Suara guturpun memekakan telinga
Tapi…
Ku disini menunggumu
Sabar
Setetes demi setetes
Air mata ini jatuh
Tercampur dengan air hujan
Tlah lama ku menunggumu
3 tahun
Janji kau
3 tahun yang lalu
Di taman ini
Tapi kau tak datang
Mimpiku akan hari ini tlah musnah
Bersama denganmu
Ajari Aku
ajari aku untuk bisa mengenalmu
ajari aku untuk tahu apa yang kamu suka dan tidak suka
ajari aku untuk lebih dari sekedar menyebut namamu,
tapi juga bisa berbicara dalam hatimu
ajari aku...
senyatanya,
melampaui semua hal yang terjadi,
dirimu telah memberikan warna dalam hidupku,
menikmati tiap kata yang kamu ucapkan,
mengenang suara kamu saat tertawa,
aku merasa itu bagian dari sebuah rasa..
yang orang sebut dengan, bahagia...
dan kenyataannya,
aku memang harus kembali pada ketiadaan.
merasa menang lagi atas kesendirian. hhh...
Sedangkal Itukah
kau membandingkanku dengan indah
menginjak-injak aku dengan canda
merobek aku dengan kebohongan
menipiskan cintaku dengan senyummu
hanya permainankah semua yang kita lalui
cuma sekelebatkah hariku bersamamu
tidak bisakah kau lihat masa depan kita
yang selalu aku bayangkan kala kau tak ada
sedangkal itukah hubungan kita
hanya bahan tawa di kala menyentuh titik jenuh
yang kau pikir bisa menjadi api
menghangatkan hati kita kembali
tak bisakah kau lihat api bukan membakar cinta lagi
tapi membakar rasa yang ada menjadi abu
terkikis mengikuti candamu tentang kita
Keputusan Hati..
Tak ku sadar Air mata terarak dengan bersih mengalir..
Perlahan..
Namun menyakitkan..
Dan hal itu tak mungkin tak getir..
T’lah ku coba seribu cara untuk membuat mu tetap di sini..
Tetapi tak satu pun menyentuh hati..
Baik itu hati mu..
Maupun hatiku..
Ingin rasanya ku buktikan bahwa masih ada hal yang tak termakan oleh waktu..
Walau setidaknya satu..
Tapi.. Sialnya hingga kini ku ‘tak tahu..
Dan bahkan mungkin tak kan pernah tahu..
Lelah satu tahun menunggu kini berakhir sudah..
Entah lega atau teraniaya yang harus ku rasa..
Entah aku atau kamu yang bersalah..
Yang jelas peluh ini kita berdua yang rasa.. Walau itu berbeda..
Kian lama.. kian ku cari..
Pintu untuk akhir semua ini..
Hingga.. kini ku temukan satu pintu..
Yakni pintu untuk melupakanmu..
Tak lagi ku jadikan rasa cinta pada mu ini sebagai sebuah keputusan..
Tetapi sebuah kenangan..
…..
Meski pahit.. Setidaknya..
Aku tahu..
Aku harus..
Apakah Ini Akhirnya,Kak?
Apakah aku cukup pantas untuk berucap lagi
Setelah aku terbayangi oleh pikiran burukku
Dan dilahap egoisku sendiri
Apakah aku masih pantas memanggilmu kakak
Setelah aku hampir membunuh bayangmu
Dan jelas mengahpus namamu
Apakah pantas aku berucap maaf
Setelah aku berniat akhiri semua
Bukan mati, hanya keluar dari hidupmu
Apakah pantas aku memelukmu
Setelah dalam hatiku, aku meludahimu
Dan menamparmu
"Adik, tidak terlambat semua ini"
"Kakak,apakah ini akhirnya Kak?"
"Akhir untuk apa?"
"Akhir untuk kita, Kak?"
"Dengar! Kita tak akan pernah berakhir"
"Maafkan aku!"
"Lupakan!"
Telaahku ternyata melenceng
Egoisku terlalu besar hingga aku menggantung
Sulit untuk akui
Aku salah dan teramat fatal
Seharusnya aku sadar
Harusnya aku paham
Pentingnya untukku
Guratan indah dalam memoriku
kemarin
kemarin
aku melangkah demi sebuah mimpi
diantara denting-denting keraguan hati
aku berlari, melompat untuk mengais takdir ilahi
hingga kudapati yang kini terjadi
semua telah pasti
pada hari ini
kemarin aku berapi-api
dianntara pelepuh kasih tak terbendung janji
bahkan kupatrikan kau dalam sanubari
biar
tak lepas dari hati nurani
dan disini aku menangis
akankah kujumpai
mentari pagi dipenghujung mimpi
nyaliku sedang menanti
di sebuah episode antah berantah
carut mawut dalam tatapan nanar
aku
tak mau terus bermimpi
Hasrat
Sudah cukup, sayang...
jangan lagi lari dariku, ketika;
ratusan malam telah kita lewati tanpa aturan basi yang mengekang leher-leher manusia dengan alibi kesantunan. karena cinta itu sendiri sangat santun.
kita berjuang untuk menyatukan hitam dan putih, hingga akhirnya kita lihat warna lain di bumi yang bukan hanya terdiri dari hitam dan putih. cokelat di matamu, merah jambu di hatiku, dan bersama-sama kita nikmati langit bertaburan warna jingga.
Sudah cukup, sayang...
jangan lagi lari dan menghilang, ketika;
aku teramat merindukan hadirmu, di sisiku.
bukan sekedar di dalam khayalku - seperti ratusan malam yang telah lewat
BISIKAN MEREKA YANG DISANA
Diantara desing peluru dan hantaman bom,
masih ada harap dan doa yang dipanjat,
Diantara derai airmata dan tetesan darah
masih ada kekuatan dan keberanian yang terpahat,
diantara mayat yang bergelimpangan,
masih banyak bayi yang dilahirkan,
hantaman martir dan bom itu tak menciutkan kami,
dan setiap jengkal tanah kami yang dirampas takkan membuat kami mundur,
esok mentari masih kan bersinar,
membawa kabar kemenangan yang kian mendekat,
sedekat bau syurga yang kian menyeruak...
LOVE INGREDIENTS:
"Maka izinkan aku menjadi koki cintamu, biar ku racik setiap rasa yang ada diantara kita menjadi sesuatu yang lebih dari hanya sekedar kata cinta"
INGREDIENTS:
-sayang
-asmara
-amarah
-rindu
-kesal
-cemburu
-tangis
-tawa
PREPARATION:
-aduklah rasa sayang bersama tepung asmara, aduk perlahan hinga
menyatu, biarkan dulu hingga mengembang
-setelah mengembang, tambahkan gurihnya air mata dari tangis
ku untuk mu, agar kau tau saja, aku lemah di hadapan keagungan,
keangkuhan, serta ego cinta ini
-bubuhkan sedikit rasa kesal kita, dan bencimu, dan amarahku, rasanya
memang sedikit asam atau mungkin pahit, karena ketahuilah wahai
kasih, tanpa rasa pahit kita tak 'kan tau apa itu manis
-bubuhkan selai maaf di sela pertengkaran dari cinta yang teriris
pisau cemburu
-panggang di oven yang hangat se hangat tawa dan gurau kita kasih
-bungkus secantik mungkin dengan kotak rindu, pasti kan kotak ini
dapat melindungi cinta sehingga cinta senantiasa terjaga dalam
rindu
-CINTA siap di sajikan
PORSI: untuk 2 orang
Labuan Rindu
Disini, masih kutemui rindu
Berserak dipinggir pantai berdebu
Kering tak terjamah bayu
Hembusan angin mengiris perih
Membawanya jauh keujung sana
Disini, masih kutemui rindu
Rinduku yang tak pernah layu
Namun hampa bak buih yang terhampar
Bergelak menjejal memar
Menghempas lepas merias bingar
Labuan Qalbu nan kian harapkan binar
Habiskan bulir mengalir berkejar
Sisakan nanar
Dipipi yang menebal memar
Disini, masih kutemui rindu
Rindu yang kutau tak pernah pilu
Namun terasa kian semu
Disini, di labuan rindu kuterpaku
Menyeru deru
Hempaskan rindu, menerjang batu
Batu yang tak tau arti sembilu
Tak kenal badai, tepiskan gelombang
Disini, kutemui rindu
Menyeringai memekik lengking
Menyeret langkah berpasir kering
Disini, kutatap rindu
Merintih lirih nan kian perih
Mengisi palung – palung sunyi
Yang kini sunyinya tak lagi dalih
Sejati kasihku bukanlah buih
Namun benih yang ingin kutanam
Demi satu tujuan
Pengabdian yang kurindukan
Jadikan Aku Seperti Dulu.....
Archimedes & Newton takkan pernah mengerti
Enstein & Edison takkan sanggup merumuskan E=mc2
Ah, tak sebanding dg momentum cintaku pada-Mu dahulu
Pertama kali cahaya-Mu jatuh tepat di sajadah hitamku
Nyata, tegak, diperbesar dan moment cinta itu semakin kuat
Dengan cinta Kau ciptakan semesta
Kuasanya Engkau, hingga semesta bertasbih untuk penciptanya
ah, bilangan cintaku mengalahkan tetapan Avogadro
Tapi itu dulu...
Kini jarak-Mu denganku bagai matahari dg pluto saat aphelium
Karena kefuturanku,
Kini cahaya-Mu semakin memudar
Namun gerlap keabadian smakin menyapa
Ya Allah, kembalikan Aku seperti dulu
Selalu kurindu hidayah dari-Mu
Jadikan Aku seperti dulu....
SERAMBI KERINDUAN
Kubisikan pada rembulan tentang rindu ini
Kubisikkan pada angin rasa rindu hati ini
Sampaikah kata mesra itu kehatimu
Sudahkah engkau bangun dan menyapaku pagi tadi
Ah...tidak
Aku masih disini
Di serambi yang sama
Serambi tempat kita dulu duduk berdua
Menikmati syair kidung masa Majapahit
Syair kejam Sang Pujangga jatuh cinta
Serambi bambu ini menjadi saksi bisu atas kehampaan tanpamu
Aku tidak lupa, bahkan aku selalu ingat
Saat kau kecup lembut dahiku kala itu
Kala mentari menggusur embun pagi
Embun yang terasing di jiwaku
Embun yang kuasingkan yang kini kurindu
Maaf..
Syair Tengah Malam
Malam menjadi raja atas kehampaan mimpi
Desah resah merajut sukma gelisah hingga pagi
Cinta masih misteri hingga engkau seduhkan kopi pahit
Duhai bunga layu
Harummu masih kucium hingga hatiku bimbang
Wahai bunga bakung
Daunmu masih terkenang hingga pagi
Cinta gelisah mendekap resah
Cinta resah didekap gelisah
Derap pagi mengantar mimpi sedih semakin akut
Segelintir kebimbangan mengantar penyair lelap
Jangan ada lagi gelisah
Karena malam masih panjang
tau ah gelap
Ketika matahari ingin menenggelamkan dirinya dalam kegelapan
aku melihat sedikit harapan yang tersipu malu
aku dengarkan suara lembutnya dan kudengar langkahnya menjauh dariku
Menanti ajal sebagai pengemis tak berarti
inginku menuju kemenangan
tapi apalah kesungguhanku dapat terwujud?
penghalang yang besar terus saja ada di depan pelupuk mataku
ku serang dia
ku tendang bagian vitalnya
ku ludahi dia
tak pernah juga kakinya berpindah tempat
hanya sisa waktu ini yang aku punya
sebelum jiwaku tercabut dari dunia bengal ini
akankah siksa kubur menantiku?
mungkinkah aku dapat memeluk kekasihku?
Dia menungguku di surga, tanpa keluh dia terus menunggu
tapi sayang, aku menghianatinya dengan lumuran dosa
Cinta Mati (Sekuel)
Lastri hari ini tidak bisa dibangunkan
Tuntutan kerinduan telah membuatnya tidak sadar
Ia dibekap rasa cinta tiada tara
Kepungan cinta itu seperti membunuhnya
Ia masih juga tidak sadar
Hanya bibir merahnya yang mengatup dan terbuka berulang-ulang
Meneriakkan kata-kata cinta:
"Andi..., Andi..., Andi..."
Ye e e e e e e
yang tua gemar mabok
yang muda pasrah isi kepalanya diobok-obok
yang tua doyan ngomong jorok
yang muda hobi ngocok
yang tua suka dusta
yang muda banyak bicara
yang tua bilang jembut
yang muda ngikuuuuuuuuuuuuuuut
Puisi untuk Uyunk
Temaram malam sejenak rampingkan kesibukanku..
Namun sunyinya tak bisa mengusir rinduku..
Smakin kobarkan hasratku..
Semakin terbangkan imajiku..
O,andai mencintanya adalah dosa
niscaya mereka..
Para PUJANGGA adlh pendosa
aku bertobat padaNYA..
&berharap..
Tuhanku kn ampuniku
karna kesalahan yang tak mungkin ku ulang..
Satu Hal yang Tak Mungkin
Mungkin aku memang orang bodoh…
Yang menancapkan pasak pada kayu yang lapuk…
Tanpa menghiraukan keberadaan karang yang lama menunggu…
Namun apa daya.. Hati t’lah terketuk…
Bagaimana bisa seseorang membuka mata…
Namun tak bisa melihat…
Kecuali ia buta…
Bagaimana pula seseorang yang bertelinga…
Tidak mendengar suara yang terlantun…
Kecuali ia tuli…
Tak lain hati ku…
Yang t’lah banyak terluka…
Bagaimana mungkin tak sakit…
Kecuali diri ini mati…
Ya … Mungkin aku memang bodoh…
Tapi entah kenapa aku tak dapat lepas dari kebodohan ini…
Melihat putih nya kasih ku pada mu…
Meski hanya beralaskan harapan…
Dan…
Bagaimana bisa aku melepaskan mu..
Jika…
Aku tak bisa berhenti mencintaimu…
Untuk Sekian Lamanya
Selusin bulan melampaui kenang
Terlantun menyimpan cerita nyanyian
Namun lagu tak mau mengenal
Notasi Cinta yang telah hancur berputar
Tinggi rendah suara menemui jeda
Hingga tak terasa rintihannya
Halus kasarkah hembusan itu
Perlahan meninggalkan nafas itu
Elemen lagu selalu mengiringi nada
Menemui dirimu saat bersajak
Bersua tentang rasa itu
Semoga abadi tercipta selalu
Senandung mengalun bersua
Tak pernah lelah karena asa
Yang ingin mendekap hangat
Untuk Sekian Lamanya ...
Denting Kehampaan
Aku termenung dalam balutan kabut malam yang dingin
Ilalang dan dedaunan menari dalam belaian angin kesunyian
Ingin aku teriak menghempaskan kegelapan
Sayup terdengar lonceng memecahkan kegundahan
Dentingan menyayat bagai duri
Menyinggapi kesunyian dalam hati
Kuhembuskan nafas lenyapkan sepi
Kosong... sepi... hampa... Sesungguhnya tidak ada apa-apa.
Aku
Aku?
Apakah aku ini?
Siapakah aku ini?
Mengapa ini adalah aku?
Kenapa bukan orang lain saja?
Mengapakah harus aku yang menjadi pusat dari diriku sendiri?
Kenapa tak kau lihat hal lain selain diriku?
Perbuatanku mungkin?
Sikap baikku mungkin?
Kegantenganku mungkin?
Aku mungkin tak seperti buatan Chairil Anwar
Garang dan berwibawa
Tegas dan punya kekekalan pendapat
Aku hanya orang biasa yang ingin mendapatkan kebahagiaan
Aku…
Tak ingin berakhir menjadi boneka siapapun
Tapi tak ingin juga kehilangan siapapun
Tidak keluarga tidak juga kekasih
Aku mungkin tak sekaya tikus emas di parlemen
Aku mungkin tak serakus sapi negara
Aku mungkin tak sedermawan begawan berbaju palsu itu
Tapi aku punya hati
Aku…
Hanya sejumput angin yang berusaha tetap nyata
Hanya sepercik air dalam dahagamu
Hanya setitik darah di mata ibu kandungku
Hanya salah satu akar saudara di dalam keluarga yang luas
Aku adalah aku yang sekarang
Dengan semua tanda tambah dan kurangnya
Berkata dalam sepi
Berharap ada ujung dalam terang dan gelap yang kulalui setiap hari
ini bukan puisi
ini bukan puisi
ini hanya bualan kosong
terbungkus kata-kata rapih tanpa sesuatu yang pasti menjadi arti
ini bukan puisi
ini hanya cacian kosong
amarah terpendam dalam hati yang tersakiti
ini bukan puisi
ini hanya angan kosong
dari seorang pecundang yang menanti untuk dihargai
ini bukan puisi
ini hanya sumpah kosong
bercampur sampah-sampah kertas yang mengotori kinerja otak kiri
ini bukan puisi..............
Salam Hangat Untuk Cinta
Ada keramahan yang tak pernah kusapa
Dalam setiap jeda yang ada
Aku mencoba menjauh dari semua
Agar tak ada lagi cerita luka
Kuurai bait-baitnya menjadi sebuah prosa
Yang sampai saat ini, ceritanya tak pernah ceria
Kuukir senandung indah semesta
Agar aku dapat menikmatinya, dan memahaminya
Karna jujur saja
Aku sudah terlalu banyak meminum pahitnya dunia
Aku tidak lagi mengharapkannya ada
Karna mengharapkannya, bagiku adalah derita
Biarlah ia hanya menjadi bagian dari cerita
Karna sesungguhnya cinta itu telah ada
Dari sebelum kita bisa mengucapkannya
Aku terlalu sibuk jika harus mencarinya
Yang aku bisa, hanyalah menyapanya
Salam hangat cinta…
Benci
Benci..
Kini kata benci sudah merasuk kembali
Entah terpukul
Atau dipukul
Tapi benci kali ini tak bisa ditepis lagi
Dan akan lama mengobatinya
Berusaha merasa senang belakangan ini
Berusaha bersikap baik dan terbuka
Tapi semuanya pecah di depan mata
Kenapa?
Tak disangka dihianati
Atau hanya sandiwara dari awal
Terlambat menyadarinya
Sungguh menyesal pun datang
Benci yang terobati dulu kini memar kembali
Pikiran buruk dan kejam pun ikut bersamanya
Kenapa kalian melakukannya?
Langitnya Laut
"Langitnya Laut"
Apakah cuma ini cerita negeri langit
tentang bintang, bulan, awan dan pelangi
saat urat langit, dan ketika limbah hujan
mengeruhkan segala isi langit
Kali ini bukan langit yang menyerngit dan bukan pula yang bercerita
hanya tentang dunia langit yang ku tulis
dalam imaji sang penulis
sebab kini ku cipta langit di alam laut
Langitnya laut terhampar sempurna
secermin kehidupan di bawah langit dunia
berkuasa di alam angin
hanya ini berkuasa di alam air
Terkisahlah seluruh isi alam dalam pijakkan
dan angan-angan.
pesan singkat tanpa mesin penjawab
Kalau kau tak sedang sibuk,
Mampirlah kapan-kapan ketempatku,
aku ingin berbincang denganmu.
atau telpun, atau sms; kau pasti tau nomorku.
(Ya, karena aku tak tahu kemana harus menghubungimu)
Jujur, kamulah sosok yang paling susah kumengerti,
kadang menyebalkan,
tapi aku senang bisa mengenalmu,
pendengar yang baik, tak banyak yang bisa begitu.
Dan dari semua yang kukenal,
hanya dirimu yang kupercaya semua rahasiaku.
Oh ya, disini banyak orang mengggunjingmu
tentang tanah longsor dan gempa tempo hari.
Aku tak mengerti, aku yakin kau tak sekejam itu.
Main-mainlah kemari, atau telpun atau sms kapan kau bisa.
Akan ku kenalkan kau pada mereka
agar mereka mengerti,
agar mereka tak banyak bicara lagi.
Dan satu lagi, kamu pasti tertawa mendengar ini,
Namamu laku dijual disini!
Sepi di Batas Puisi
Kenangan selalu datang seperti lagu lama atau sebuah film tua
Memutar segala ingatan hingga batas kenyataan dan jarak rasa
Dan pertengkaran yang menjauhkan kita dari hati dan tatap mata
O, betapa kesepian begitu membunuh melebihi bisa ular
Dalam setiap kepahitan dan manisnya kebersamaan
Masa lalu kita adalah sejarah yang patut dikenang
Pun kepada anak-cucu kelak patutlah menjadi cerita
Bahwa kita benar pernah saling cinta dan menyayangi
Namun bila perpisahan adalah jalan menuju sisa umur
Maka kuterima semua takdir dan kehendak rahasia itu
Sebagai tanda kepasrahan dan kepercayaan kepada-Nya
Sampai pada nanti puisi membunuhku di batas sepi
Kekasih dan Perempuan
Kupanggil engkau dengan nama ;
Kekasih
Kau panggil perempuan itu dengan nama ;
Kekasih
Lupakan Saja
Lupakan saja esok akan datang :
Dan peganglah tanganku
Lupakan malam akan tiba :
Biarkan kaki kita menari hingga lelah
Karena hidup tidak harus didikte,
oleh waktu atau apapun.
Oktober 2008
Jangan menyerah kawan,,,
Tentang Kita
Engkau adalah langit
Dan aku adalah debu
Setiap waktu kita saling memandang
Bahkan mungkin saling merindukan
Tapi sejatinya,
Kita tak kan pernah hidup berdampingan
Di bentangan yang sama…
hanya bisa dirasa
hanya bisa kupandang tanpa bisa berkata
hanya bisa dirasa tanpa bisa diungkap
rasa itu tinggallah rasa
Cinta memayat
Seret separuh badan
pikir
menular luka
karya ini *saat
Sayang maaf
cinta ini memayat
menelusup kolong
dalam tenang
Tanah
sumpah ku merindu
sebab sudah
tak ada laku
Kubur senyum
tebas sehati
wusss...
terkenang mati
Sebuah cinta yang ku kubur hidup-hidup
Nyanyian hati
Lihat rundung mengelung
aku meratap tak melihat
melangkah sendu tertatih pilu
lariku menangis
Sayup mata menyapu
segala asa membiru
dengar nyanyian hati
senandung mencengkram pilu
Semangat meremuk melayu
terpisah tercacah
Sedih menangis memerih
pinjam sedikit tubuh
Kutemukan tempat dimana
saat sedih bisa ku pegang
ketika semangat menghangat
dan cinta memayat
Kisah tentangku
Menunggu pagi bukan untuk mati
hanya mengusir penat di hati
selanjutnya membunuh mati rasa patah hati
Dilema belenggu semua sendu
ku hidup bukan untuk malu merenyu
akhirnya rindu ku kulum menjadi ragu
Kulentangkan semua bebanku diatas pilu
berharap kisah tentangku musnah ditelan abu
atau diam membatu menunggu pangeran berhati salju
Bidadari Surga
Selembut wajah dan kerling mata memanja
di balik kerudung indah ia tabur pesona,
senyum tawa menghias tiada lara
ucapnya sungguh tiada dusta hanya kata mutiara yang tercipta.
Inilah Bidadari Surga yang turun ke dunia
tertunduk malu pada semua rindu...
Padamu akhwat yang mengarat di hati
inilah seluruh isi hati untuk istri berparas bidadari
[Bandung] Hujan yang tak henti mengguyur hati...
Beri Aku Waktu
Memang benar…
Engkau tak pernah melarangku merindukanmu
Sejauh apapun hal itu ada pada diriku
Tapi jujur saja, sampai saat ini
Aku tak pernah berani mengharapkanmu
Sejak pertama kali kita bertemu
Kuakui aku menyukaimu
Anggun budimu menyentuh relung batinku
Engkau telah menyadarkannya dari tidur panjangku
Meski aku tak pernah menatap lembut wajahmu
Salahkah jika aku selalu mengingatmu?
***
Menjadi karibmu adalah keberuntungan bagiku
Tapi menjadi pendampingmu adalah hal lain bagiku
Aku berusaha berbuat baik padamu
Bukan karna aku ingin memilikimu,
Tapi lebih karna aku menyukai pribadimu
Wahai wanita dambaanku,
Ingin sekali aku bertemu lagi denganmu
Seperti sore itu
Didepan sebuah kedai di pinggiran kota
Tatapanmu yang bersahaja
Membuat aku tak pernah lupa
Aku ingi menatapmu meski hanya sekejap saja
Karna dengan begitu
Engkau berikan keteduhan bagi gersang hatiku
***
Wahai wanita yang kurindu
Berikan kesempatan padaku
Agar aku bisa membuktikan padamu
Bahwa aku mampu meyakinkanmu,
Beri aku waktu untuk aku katakan padamu
Bahwa aku tulus mencintaimu
Akan aku katakan pada hatimu,
sesungguhnya yang kurasa padamu
Lebih dari hal itu…
Teriakan hati
Sayang, dekap nyata rinduku! meski kau palsu
ku lihat kau bertukar perasaan,
sedih tertahan mengguyur hati dalam nyata rindu
Hati menatap kosong ruangnya
melihat mimpi, yang terkunci
rangkaian hati yang menangis kembali tersakiti
Kuberteriak dalam hati
Kau adalah istriku sehidup semati
meski itu hanya dalam mimpi....
Patahnya sebuah rindu
Jari-jari tersakiti
mencium iri di hati
ku robek jantung hati
untuk memalsu hati
Terpasung rasa angkuh
terkerat utuh
menanti ajal di mimpi
walau terang hampiri
Cair mengisi rindu
mengharap hadirmu
untukku buat pilu
rasakan itu...
Lagu patah hati
plintir sampai mati
untuk kembali duka diri
mengenang luka ini
Menulang hati
Percuma berteriak keras di samping telinganya
semua terasa percuma, kalau hati tak kunjung berubah
hanya sia-sia di akhir kata
Dan bukan langkah yang kedua atau terakhirnya
kita semua selalu mengingatkannya, agar nanti tak menulang hati
hanya hati dan doamu mampu menghancurkan tulang hati.
Sembunyi dibalik sebuah nama
Aku bukanlah aku
aku hanya setapak sekaki dengan ibuku
peranku di Dunia untuk bercermin muka
memerankan peran yang tak pernah ku setujui
Sembunyi dibalik sebuah nama
mengerang, menggeliatkan tubuh dengan kaku
Setanku di Bumi untuk menelan titah
Tuhanku disini menghukum para setan bermuka masam
Kusam waktu menunggu
rantai-rantai yang membelenggu, tapi tetap ku gugu
aku hanyalah sebuah nama
tidak berdaya melawan nafsu yang terukir dikalbu
Serahkan padaku untuk kupasung hati berkabut nafsu
walau mati jiwaku menempa getaran pasungannya!
itu lebih baik untukku...
Marah yang terlilit
Laksana pasir yang kering
Seangkuhku menghadapi setapak sendiri
menembus jantung hati yang terperih
dirimu dengannya membuatku lelah
Lelah mengartikanmu di hatiku
dirimu dengannya membuatku rumit
langkahku menjadi angkuh
ku seret! rasa yang tersakiti untuk menjadi saksi
Sebuah hati yang terluka
karena ini rumit dan sulit
dan kisahmu bukan untukku
ini nyata...
Tentang marah yang ku lilit dengan kebencian abadi...
Nyanyian Mentari Biru
Fajar menyingsing di awal pagi biru
Sebuah hari baru untuk seluruh makhluk
Merubah keheningan malam
Menjadi terangnya siang
Fajar menyingsing di awal pagi biru
Sebuah nyanyian terdengar dari kejauhan
Bukan nyanyian burung yang terbangun di pagi hari
Bukan pula nyanyian rumput yang berembun
Nyanyian di pagi hari
Suara yang merdu bak air
Yang jatuh dari daun ke atas kolam ikan
Suara yang menenangkan bak api
Yang membakar kayu di tungku
Inikah yang disebut mimpi?
Inikah yang disebut khayalan?
bukan...
ini hanya awal yang baru untuk hari esok
Kutitipkan Hati Ini Pada Hatinya
Wahai wanita yang lembut hatinya
Salahkah ketika rasa ini tercurah untukmu
Dosakah jika hati ini mencintaimu
Atau haruskah cinta ini kupendam selamanya
karna tak ada lagi pintu yang berhak diketuknya
Ataukah aku harus menutup mata selamanya
Agar rasa ini tak kan pernah ada
Wahai wanita yang lembut hatinya
Ketahuilah…
Bahwa satu-satunya yang kumiliki di dunia ini hanyalah hati
satu-satunya yang ku yakin, siapapun tak kan rela kehilangannya
Dengarlah…
Aku ingin sekali menitipkan hati ini
Agar ia tetap hidup bersama lembut hatimu
Meski aku tau, padaku tak ada sumpah yang bisa diucapkan
Tak ada janji yang bisa kuberikan
Karna yang akan menentukannya adalah
Satu keputusan dan ketulusan
Jujur kukatakan, tak ada lagi keinginan
Yang tertumpah pada dirimu
Karna hati ini terlalu lemah meski untuk sebuah harapan
Atau sedikit permintaan
Kecuali kutitipkan hati ini
Pada hatimu….
You and I
Panjang waktu yang terlalu
memisahkan kamu dan aku
akankah masih ingat antara kamu dan aku
jangan pernah ucapkan kata selamat tinggal untukku
Setiap hari yang terlewati
memisahkan dengan paksa
akankan waktu kembali antara kamu dan aku
jangan pernah menghilang dari pandanganku
Tolong perhatikanlahku disini
menahan setiap rindu yang dipaksa membelengu
akankah ini semuanya antara kamu dan aku
jangan pernah buatku menahan rindu terlalu lama
Aku ingin tenang ketika melihatmu
tenangkanlah hatiku saat melihatmu
maafkan jika kau selalu ku tunggu
hingga akhir waktu..
DIA
Dia sekedar coretan,, berbentuk puisi
Bukan sebuah mimpi
Tak berkesan mereka,, kalian,, atau kami
Kadang dia dihias berwarna warni
Kadang dia dibuat kelam,,, suram gambarkan sepi
Kadang dia ditutupi,,, untuk konsumsi pribadi
(takut dicibiri)
Walau dia mati,,,
Bahkan kadang dia tak lahir dari hati,,,
Tapi dia,,, punya arti
Aku Menunggumu
Gores – gores tinta mengiris durja
Sang raja wisesa berwajah duka
Ceriapun tak lagi ada
Yang tersisa hanyalah hampa
Penantian ini terlalu indah
Menguak luka yang kian parah
Namun kutetap menunggu dan menunggu
Bilakah masanya kau kan tiba ?
Biarlah waktu yang kan membawamu
Tuk ubati luka tanpa sisa didada
Tak ada kecewa, tak ada sengketa
Dalam jaga kuterseta
Bait – bait pilu hiasi derita
Membuat hampa kian terasa
Jujur kuberkata
Ku tak ingin ulangi luka
Hilangkan derita tanpa sengketa
Ada makna yang tak nyata
Di balik bait – bait kata
Bersama bayang – baying maya
Terlempar kejurang derita tanpa pelita
Yang kutau hanya satu
Aku tetap menunggumu !
Bila ku jatuh cinta
Bila ku jatuh cinta
Jadikan ia yang pertama dan terakhir
jadikan ia sebagai belahan diriku
jadikan ia sebagai penuntunku
Ketika ku lemah dan terjatuh
jadikan ia sebagai tongkat
sebagai tempatku bersandar
jadikan ia seperti lautan
yang selalu bisa menerimaku
Arti Kesepian ini
Sunyi
Jauh dalam hati
Merasa sangat kedinginan
Kini diriku hanya terdiam dan hanya tertunduk lemah
hanya menunggu kematian
Puisi
Dalam sujudku malam ini, terbayang seraut wajah dengan tubuh kekar tersenyum indah seindah purnama yang selalu didampingi satu bintang. Wajah yang selalu aku rindukan, ingin selalu memanggilnya. 6 tahun sudah aku tidak pernah memanggil dengan kata itu, "Ayah"...
Aku tidak tahu dia sekarang dimana, mungkin saja dia bahagia, mungkin juga tidak. Namun malam ini aku coba bercerita dengannya, cerita yang belum berubah semenjak ditinggalnya...
Ayah....
Aku baik-baik saja, begitu juga dengan Ibu
Ibu masih sama seperti dulu, saat kamu ada disampingnya
masih menghirup bau tanah sawah kita
walau terkadang terbaring letih
karena tak kuasa menahan rindu untukmu dan lelahnya hidup
Tapi Ayah jangan khawatir
Ibu akan selalu kupeluk, pelukan terhangat yang kumiliki
Aku coba Ayah walau tak sehangat pelukanmu untuknya...
Ayah...
Aku belum bisa berpijak, belum menjadi impianmu
Tapi aku terus mencoba ayah
Hingga aku juga terbaring disisimu, terkulai lemah
Ayah tidak perlu meminta maaf padaku
Karena tidak bisa membelikan aku baju terakhir
Baju yang akan kupakai pada pernikahanku
Disisi menantumu yang selalu ingin kau lihat
Ayah...
Aku tahu kami yang terbaik bagimu
Dalam sujudku ini kuhaturkan doa untukmu
semoga kamu bahagia disana
tempat yang sama sekali aku belum tahu....
Ayah...
Aku pergi dulu
Membaringkan badan lemah ini
Menutup mata ini sekejap
Mengharap mimpi bertemu denganmu
Luka yang Terkenang
Udara sejuk menerpa
Indahnya sinar pagi menyinari
Aku menutup mataku sejenak
Menemani hati yang kosong
Rndu memaksa menusuk hati
Namun rindu itu tak terasa
Sekuat apapun kau merayu
Hati ini tak akan pernah terisi lagi olehmu
Aku tak akan termakan lagi
Oleh Cinta paslumu
Oleh pujian busukmu
Oleh rayuan masammu
Lupakanlah semuanya
Rasa cinta yang pernah terajut
Di relung hatiku yang kini tersayat
Kini kau mengatakannya lagi
"Aku sungguh merindumu"
Aku tertawa mendengarnya
Aku menanggis telah mempercayai kalimat itu dulu
Tapi kini...
itu hanya menjadi
Rangkaian kata yang menjadi bayangan yang
Tak terkenang lagi
Terindah Yang Pernak Ku Miliki
Bagaikan Sinar Matahari
Yang Selalu Menerangi Seluruh Bumi
Seperti Itulah Cinta Mu
Yang Telah Menerangi Jalan Hidup Ku
Kau Bagaikan Malaikat Kecil
Yang Selalu Memberi Kebahagian Dalam Hidupku
Yang Selalu Menemani Kesepian Ku
Dan Yang Selalu Menceriakan Kesedihan Ku
Kau Juga Bagaikan Embun Pagi
Yang Selalu Memberikan Kesejukan Didalam Nafas Ku
Kau Selalu Memberikan Ketenangan Di Dalam Kegundahan Ku
Dan Kau Selalu Menebarkan Aroma Kesejukan Di Dalam Kepenatan Ku.
Bagi Ku,,, Kau Adalah Imipan Ku
Impian Yang Telah Lama Ingin Ku Gapai
Tak Kan Kubiarkan Impian Itu Menjauh Dari Ku
Dan Tak Kan Kubiarkan Pula Orang Lain Menggapai Mu
Karena Kau Adalah Kebahagiaan Yang Terindah
Yang Pernah Aku Miliki.
Luka Terindah
Semua khayal dan ilusi
Terkenang indah di dalam pikiran dan ingatanku
Namun menusuk hati
Hingga tersayat-sayat
Luka yang terindah yang pernah ia berikan
Dari sahabatku yang sesaat
Sahabat yang menyimpan seluruh kenangan pahitku
Sahabat yang tidak ernah membagi ceritanya
Dan dia sering menyebut dirinya 'si itik Buruk Rupa'
Namun aku dipikir
Dia adalah seorang Putri yang bijaksana
Seorang putri yang tidak pernah mengeluh akan jahatnya dunia
Seorang putri yang pintar mengontrol emosi
Namun kenapa, kenangan itu hampir membunuhku
Dan kini,
Luka yang pernah tersayat
Udah tertutup dan terobati
Oleh pelukan hangat dan bertabur rindu
oleh Dia
Firasat Sehembus Angin
angin meluncur tak ingin kembali
dari rayuan gombal sang sakit hati
tuhan kamu,
tuhan kami
sakit hati
angin berhembus pelan
mengguncangkan dedaunan rindang
berjalan...
berjalan...
tibalah ia
disebuah makam
makam tak bernama
makam pejuang
gersang
retak
hancur
moral bangsaku
adakah tuhan memberi jawaban?
jawabannya :
tidak!
belenggu nafsu membara
membakar langit merah darah
mencincang nurani rakyat lemah
menzinahi fikiranku!
tidak...
Skripsi dan Puisi - Sebuah Rima Tak Berisi
aku punya dua jiwa hari ini
antara skripsi dan puisi
keduanya bermain kata sana sini
menghasilkan tulisan yang asri
bingung aku untuk memilih
keduanya sudah memaku hati
mengingatkan untuk tak berpaling
aku bagaikan magnet dua sisi
hanya mampu berdiri tanpa memilih
kuhiraukan batasan yang menghalangi
kujadikan tanpa batas antara puisi dan skripsi
HILANG
Semusim tlah berlalu
Kau tinggalkanku
Mengakhiri hidupmu...
Takkan mungkin kupahami
Arti cinta sucimu padaku
Bila kau tak ungkapkan itu
Kau datang bagai ombak di lautan
Hempaskan segala gundah di hati
Lalu kau bawa pergi...
Ke sebrang lautan nan luas
Tak terjangkau olehku di sini
Kau pergi dan tak pernah kembali
Tinggalkanku dengan sejuta perih
Tak pernah kau ungkap rasamu
Betapa kau menantiku....
Saat Hujan Bernyanyi
Tik...
mereka berhamburan menyerang tanahku
Takut
dan kerumuni kecilku
Tik...tik...
mereka menyapu kotaku
membawa kelam dalam gelombang mendung
semilir dingin menerpa berkabung
Tik...tik...tik...
Di pinggir luapan kecil ciptaan mereka
tunduk mungil gadis peminta-minta
meringkuk tak bisa
dan,
di bawah jeruji air menggaris tak berpikir
gadis kecil diam menggigil
Hujan di Selasa
mengacau mimpi pemilik dunia
gadis dengan tangan terbuka
lalu?
Tengadah telapak pada siapa?
Tik...tik...tik...tik...
menyapu ombak di selongsong selokan
manusia hanya berlalu lalang
lupa
pemimpi kecil yang hilang dalam ingatan
...dia sepertiku
KISAHKU
Jangan sakiti,
karena rapuhku,
jika pecah tak mampu utuh lagi.
Jangan bawaku kembali,
meski inginku
karena jejakku masih di sana, dan kutahu tak mungkin tertata lagi.
Pegang tanganku,
sebab tertatihku
jika oleng maka akan jatuhku pada jurang yang dalam,
terlalu dalam, hingga tak bisa pulang.
Biarkan aku bersandar,
karena harapku,
engkau tetap di sini
menyelimutiku hangat dengan kasih.

0 komentar:
Posting Komentar